Perbedaan Shiyam dan Shaum dalam Al-Quran

Posted on

Jagoan Ilmu, Perbedaan shiyam dan shaum dalam Al-Quran – Tahukah Anda, perbedaan shiyam dan shaum ?, Jika Anda belum pengetahuinya tepat sekali Anda mengunjungi artikel ini, karena kali ini kami akan membahas tentang perbedaan arti shiyam dan shaum. Persamaan makna kata shiyam dan shaum dari segi bahasa berarti menahan, namun arti keduanya berbeda. Nah, untuk lebih jelasnya mari simak penjelasan perbedaan shiyam dan shaum berikut ini.

Perbedaan Shiyam dan Shaum

Perbedaan Shiyam dan Shaum

Shiyam adalah menahan diri dari makan, minum, dan hubungan seks demi karena Allah sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Inilah yang ditunjuk antara lain oleh QS. al-Baqarah [2]: 183 dan yang atas dasarnya umat Islam berpuasa sepanjang bulan Ramadhan. Sedang shaum digunakan al-Qur’an untuk makna menahan diri tidak mengucapkan sesuatu yang tidak berguna walau sesuatu itu benar.

Kata “shiyam” dalam Al-Quran disebutkan sembilan kali dalam tujuh ayat:

  1. Dalam surah Al-Baqarah ayat ke-183: ya ayyuhalladzina amanu kutiba ‘alaikum al-shiyam kama kutiba ‘alalladzina min qablikum la’allakum tattaqun. Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasasebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian
  2. Dalam surah surah Al-Baqarah ayat ke-187 (disebut dua kali): uhilla lakum lailah al-shiyam al-rafatsu ila nisa’ikum. Dihalalkan bagi kalian pada malam hari puasa untuk berhubungan intim dengan istri-istri kalian. Tsumma atimmu al-shiyam ila al-lail. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.
  3. Dalam surah Al-Baqarah ayat ke-196 (disebut dua kali): faman kana minkum maridhan au bihi adzan min ra’sihi fa fidyatun min shiyamin au shadaqatin au nusuk. Jika ada di antara kalian yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur) maka wajiblah atasnya fidyah, yaitu berpuasaatau bersedekah atau berkorban … Faman lam yajid fa shiyamu tsalatsatu ayyamin fil hajji wa sab’atin idza raja’tum. Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali.
  4. Dalam surah Al-Nisa ayat ke-92: fa man lam yajid fa shiyamu syahraini mutatabi’aini taubatan minallah. Barang siapa tidak memperolehnya maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut untuk penerimaan tobat dari pada Allah.
  5. Dalam surah Al-Maidah ayat ke-89: fa man lam yajid fa shiyamu tsalatsati ayyam dzalika kaffaratu aimanikum. Barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian maka kaffaratnya puasa selama tiga hari.
  6. Dalam surah Al-Maidah ayat ke-95: waman qatalahu muta’ammmidan fa jaza’un mitslu ma qatala min al-ni’ami yahkumu bihi dzawa adlin minkum hadyan baligh al-ka’bati au kaffaratun tha’amu masakina au ‘adlu dzalika shiyama. Siapa saja membunuhnya (hewan buruan ketika kalian sedang berihram–haji atau umrah) dengan sengaja maka dendanya ialah mengganti hewan ternak yang sepadan dengan buruan yang dibunuhnya menurut putusan dua orang adil di antara kalian sebagai hadyu yang dibawa ke Ka’bah, atau kaffarat (membayar tebusan) dengan memberi makan orang-orang miskin, atau berpuasa ….
  7. Dalam surah Al-Mujadalah ayat ke-4: faman lam yajid fa shiyamu syahraini mutatabi’ani min qabli an yatamassa. Siapa saja yang tidak mendapatkan (budak) maka wajib baginya berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur.

Jadi, kata “shaum” atau “shiyam” dalam Al-Quran digunakan secara berbeda. Baca Juga Perbedaan Shaum dan Puasa

Kata Shaum dalam surah Maryam di atas merujuk pada arti umum, yaitu al-imsak ‘an ayyi fi’lin au qaulin kana. Menahan diri dari tindakan atau ucapan. Dalam konteks ayat itu, “shaum” tersebut berarti “menahan diri dari ucapan” atau “tidak berkata-kata” atau “diam”.

(Dalam kamus Lisan al-‘Arab karya Ibnu al-Mandzur, “shaum” artinya “tark al-tha’am wa al-syarrab wa al-nikah wa al-kalam” atau “tak makan, minum, berhubungan intim, dan berkata-kata”).

Sedangkan “shiyam” di ketujuh ayat di atas merujuk pada arti spesifik, yaitu arti secara fikih: imsak ‘an al-‘akl wa al-syurb wa al-jima’ min thulu’ al-fajr ila ghurub al-syams ma’a al-niyyah. Tak makan, tak minum, dan tak berhubungan intim sejak fajar terbit hingga matahari terbenam.

Shiyam” adalah bagian dari arti “shaum”. Sementara, “shaum” tidak pasti berarti “shiyam”. Menahan diri dari angkara murka, menahan diri dari mengungkapkan rasa cinta, menahan diri dari mencaci sesama, semua itu disebut “shaum” dan tidak bisa disebut “shiyam”.

Akhir Kata

Demikian yang dapat Jagoan Ilmu bagikan, tentang Perbedaan shiyam dan shaum dalam Al-Quran. Sekian dan terima kasih telah mengunjungi jagoanilmu.net, semoga bermanfaat dan sampai jumpa lagi di artikel Kesehatan berikutnya.

Gravatar Image
Hargai dia yang membencimu, karena dia adalah penggemar yang telah menghabiskan waktunya hanya untuk melihat setiap kesalahanmu.