Hen Hen Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Bila kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yang salah, dan TERUSLAH MELANGKAH.

Penjelasan Teknik Sampling Dalam Metode Penelitian

8 min read

Penjelasan Teknik Sampling Dalam Metode Penilitian

Sampel atau contoh secara sederhana dapat diartikan sebagai bagian dari populasi yang mewakili secara keseluruhan sifat dan karakter dari populasi. Sebagai gambaran sederhana sampel dibutuhkan sebagai acuan untuk memberi gambaran sederhana seperti seseorang yang membeli jagung. Seorang pembeli yang cerdas biasanya akan memilih secara rambang atau random dari jaguang yang diperjualbelikan agar menghindari terjadinya kecurangan yang dilakukan oleh pedagang. Rasa jagung yang dimakan akan menjadi alat tafsiran mengenai rasa seluruh jagung yang ada.

Di dalam penelitian pendidikan, objek penelitian biasanya akan berlaku pada peserta didik, guru, mahasiswa atau lembaga pendidikan. Persatuan dari objek biasanya memiliki volume yang cukup besar selanjutnya disebut populasi penelitian. Volume yang lumayan besar ini kemudian dapat diamati dengan menarik dari beberapa sampel yang mewakili populasi dengan alasan yang berbagai macam tentu saja dengan tujuan yang utama yaitu terlaksananya sebuah penelitian dengan benar sehingga jika desain dari sebuah penelitian mengharuskan penggunaan populasi, maka pengambilan sampel tidak diperbolehkan dan begitu pula sebaliknya, sebuah penelitian yang tidak memperbolehkan melakukan treatment pada seluruh populasi maka pengambilan sampel penelitian adalah sebuah keharusan.

Penjelasan Teknik Sampling Dalam Metode Penilitian

 

Defini Sampel

Sampel merupakan bagian dari populasi yang mewakili semua karakteristik dari populasi. Sebuah populasi dengan jumlah besar dapat diambil sebagian dengan kualitas sampel yang mewakili sama persis dengan kualitas dari populasi dengan kata representatif (perwakilan). Jumlah dari sampel tidak selalu besar dan juga tidak selalunya kecil, hal ini bergantung pada pada representatif karakter dari sampel.

Di beberapa bentuk penelitian kemungkinan jumlahnya harus terpenuhi sehingga ada aturan baku mengenai sampel minimum yang harus diambil dalam sebuah penelitian. Hal tersebut dilakukan dengan pertimbangan kualitas dari sampel yang diambil.

 

Tujuan Pengambilan Sampel

Seperti yang telah diuraikan di atas, pengambilan sampel pada sebuah penelitian hanya dilakukan jika sampel adalah sebuah keharusan. Dasar yang digunakan dalam pengambilan sampel disebabkan oleh alasan bersifat destruktif, konstruktif, ataupun alasan yang bersifat teknis sehingga sampel merupakan solusi jitu. Adapun alasan yang bekenaan dengan pengambilan sampel yakni sebagai berikut:

  • Masalah biaya
    Besar-kecilnya biaya tergantung juga dari banyak sedikitnya objek yang diselidiki. Semakin besar jumlah objek yang akan diteliti, maka semakin besar juga biaya yang diperlukan, lebih-lebih apabila objek itu tersebar di wilayah yang lumayan luas. Maka dari itu, sampel ialah satu cara untuk mengurangi biaya.
  • Masalah waktu
    Penelitian sampel selalu memerlukan waktu yang lebih sedikit daripada penelitian populasi. Berhubung dengan hal itu, jika waktu yang tersedia terbatas, serta kesimpulan diinginkan dengan segera, maka penelitian sampel dalam hal ini akan lebih tepat.
  • Percobaan yang sifatnya merusak
    Banyak penelitian yang tidak dapat dilakukan pada seluruh populasi karena dapat merugikan atau merusak. Contohnya, tidak mungkin mengeluarkan semua darah dari tubuh seorang pasien yang akan dianalisis keadaan darahnya, juga tidak mungkin mencoba seluruh neon untuk diuji kekuatannya. Karena hal itu penelitian harus dilakukan hanya pada sampel.
  • Masalah ketelitian
    Masalah ketelitian adalah salah satu segi yang diperlukan agar kesimpulan cukup dapat dipertanggungjawabkan. Ketelitian, dalam hal ini meliputi pengumpulan, analisis data, serta pencatatan. Penelitian terhadap populasi belum tentu ketelitian terselenggara. Boleh jadi peneliti akan jenuh dalam melaksanakan tugasnya. Untuk menghindari semua itu, penelitian terhadap sampel memungkinkan ketelitian dalam suatu penelitian.

 

Syarat Pengambilan Sampel

Sampel diharuskan mempunyai seluruh kriteria dari populasi, karena pertimbangan pengambilan sampel harus memiliki dua kriteria yaitu:

1. Presisi

Presisi dari sampel merupakan pertimbangan mengenai estimasi yang mungkin muncul dalam pengambilan data yang diakibatkan oleh sampel. Salah satu cara untuk estimasi data ini yakni melihat standar deviasi dari data yang ada. Sampel yang digunakan harus baik dari segi kualitas dan kuantitas. Contohnya rata-rata penghasilan di perumahan Jagoan Ilmu adalah Rp 25.500.000 yang didapatkan dari dua orang sampel dengan penghasilan sampel X sebanyak Rp 50.000.000 dan sampel Y sebanyak 1.000.000. Kesimpulan rata-rata dari perumahan berdasarkan operasi matematis tersebut sudah benar, tapi pada kajian statistik dan kesimpulan tentu saja tidak benar. Penambahan jumlah sampel merupakan salah satu cara untuk mengurangi kesalahan analisis data.

2. Akurasi

Akurasi mengacu kepada sifat dan karakter dari sampel yang digunakan. Sebuah populasi yang homogen hanya terdapat pada kasus yang bersifat teoritik. Sifat dan karater dari sampel yang diambil terkadang tidak sesuai dengan keadaan populasi karena pengaruh banyak hal. Peneliti harus memiliki kemampuan untuk mengetahui secara detail karakter dari setiap sampel yang digunakan dan disesuaikan dengan karakter dari populasi.

 

Ukuran Sampel

Pada hakikatnya tidak ada aturan baku mengenai pengambilan ukuran dari sampel selama sampel sudah mewakili karakteristik dari populasi. Akan tetapi dalam penelitian yang bersifat psikologi misal pada penelitian pendidikan, semakin besar jumlah akan menghasilkan data yang lebih stabil. Selain dari karakteristik peneliti juga harus mempertimbangkan jumlah data yang dibutuhkan untuk keperluan analisis Statistik. Misalnya jika penelitian yang dilakukan bertujuan untuk membandingkan dua buah grup dengan satu variabel pembanding, analisis yang dilakukan untuk data yang terdistribusi normal merupakan untuk distribusi diharuskan minimal jumlah data terdiri dari 30 data karena kurang dari itu tidak menghasilkan analisis yang baik dan tidak lebih dari 60 data.

Beberapa ahli memberikan gambaran mengenai jumlah sampel yang berbeda-beda namun pertimbangan jenis serta bidang penelitian sebaiknya dijadikan acuan untuk memilih ukuran sampel. Sebagai gambaran pendapat beberapa ahli mengenai jumlah sampel.

Gay dan Diehl (1992) pada kajian penelitian untuk kelas bisni dan manajemen memberikan sara ukuran sampel minimal:

  • Penelitian deskriptif, jumlah sampel minimum adalah 10% dari populasi
  • Penelitian korelasi, jumlah sampel minimal adalah 30 subjek
  • Penelitian kausal perbandingan, jumlah sampel minimum adalah 30 subjek per group
  • Penelitian eksperimental, jumlah sampel minimum adalah 15 subjek per group

Frankel dan Wallen (1993) pada kajian penelitian evaluasi pendidikan menyarankan:

  • Penelitian deskriptif jumlah sampel minimum adalah 100 sampel
  • Penelitian jumlah sampel minimum adalah 50 sampel
  • Penelitian kausal-perbandingan sebanyak 30 sampel untuk setiap group
  • Penelitian eksperimental sebanyak 30 atau 15 per group

Roscoe, Ukuran sampel penelitian dibedakan menjadi 4 bagian, yakni :

  • Ukuran sampel >30 dan <500 adalah tepat untuk kebanyakan penelitian
  • Jika sampel dipecah ke dalam subsampel (pria/wanita, junior/senior, dan lain sebagainya), ukuran sampel minimum 30 untuk tiap kategori adalah tepat
  • Dalam penelitian mutivariate (termasuk analisis regresi berganda), ukuran sampel sebaiknya 10x lebih besar dari jumlah variabel dalam penelitian
  • Untuk penelitian eksperimental sederhana dengan kontrol eskperimen yang ketat, penelitian yang sukses ialah mungkin dengan ukuran sampel kecil antara 10 hingga 20

Isaac dan Michael memberikan gambaran mengenai metode pengambilan sampel yang disesuaikan dengan taraf signifikansi dari penelitian yaitu 1%, 5%, dan 10%. Jumlah sampel-sampel selanjutnya dihitung dengan persamaan:

Penjelasan Teknik Sampling

Keterangan:

 

s = jumlah sampel
x² = Nilai tabel chisquare untuk µ tertentu (dk=1)
N = jumlah populasi
P = Q = 0,5
d = taraf signifikansi (1%, 5%, dan 10%)

 

Menurut Slovin, ukuran sampel dapat ditentukan dengan:

penjelasan teknik sampling

Keterangan:

s = jumlah sampel
N = jumlah populasi
d = taraf signifikansi

Pertimbangan pengambilan sampel dikembalikan oleh sang peneliti dengan asumsi terpenuhi karakteristik dari populasi, disesuaikan dengan jenis statistik yang digunakan serta menggunakan jumlah sampel jenuh paling sedikit.

 

Teknik Pengambilan Sampling atau Sampel

Teknik sampling merupakan sebuah metode atau cara yang dilakukan untuk menentukan jumlah dan anggota sampel. Setiap anggota tentu saja wakil dari populasi yang dipilih setelah dikelompokkan berdasarkan kesamaan karakter. Teknik sampling yang digunakan juga harus disesuaikan dengan tujuan dari penelitian.

Populasi terdiri dari sekelompok individu yang sifatnya heterogen terbatas. Ada banyak variasi variabel yang melekat pada masing-masing individu. Perbedaan ini bisa disebabkan oleh faktor internal maupun eksternal dari individu seperti halnya wilayah tempat tinggal, tingkat pendidikan, budaya atau gaya hidup. Subjektifitas dari individu-individu yang memiliki sifat determinan yang berulang pada populasi akhirnya membentuk karakter dari populasi secara umum. Berdasarkan karakter ini, dapat disimpulkan bahwa pengambilan sampel dari populasi tidak bisa dilakukan begitu saja namun dibutuhkan suatu teknik agar sampel yang ditarik tetap representatif

Hal yang harus diperhatikan dalam pengambilan sampel atau sampling yakni seluruh variabel yang berkaitan dengan penelitian. Unsur-unsur khusus yang melekat pada pribadi tentu saja perlu diperhatikan karena individu dengan kemampuan khusus dalam sampel akan membawa bias data dan tentu saja mempengaruhi distribusi data yang ada. Kesesuaian karakteristik daerah, tingkatan, dan juga kecenderungan khusus juga perlu dipertimbangkan dalam memilih teknik sampling yang sesuai penelitian.

 

Jenis dan Metode Sampling

Sampling secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi dua (2) kelompok, yaitu Probability sampling dan Nonprobability sampling. Adapun Probability sampling menurut Sugiyono adalah teknik sampling yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. Sedangkan Nonprobability sampling menurut Sugiyono adalah teknik yang tidak memberi peluang/kesempatan yang sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel.

1. Probability sampling

Probability sampling menuntut bahwasanya secara ideal peneliti telah mengetahui besarnya populasi induk, besarnya sampel yang diinginkan telah ditentukan, dan juga peneliti bersikap bahwa setiap unsur atau kelompok unsur harus memiliki peluang yang sama untuk dijadikan sampel. Adapun jenis-jenis Probability sampling yaitu sebagai berikut :

  • Simple random sampling
    Menurut Kerlinger (2006:188), simple random sampling adalah metode penarikan dari sebuah populasi atau semesta dengan cara tertentu sehingga setiap anggota populasi atau semesta tadi memiliki peluang yang sama untuk terpilih atau terambil.
  • Proportionate stratified random sampling
    Margono (2004: 126) menyatakan bahwa stratified random sampling biasa digunakan pada populasi yang mempunyai susunan bertingkat atau berstrata. Menurut &nbsp;Sugiyono (2001: 58) teknik ini digunakan bila populasi mempunyai anggota/unsur yang tidak homogen dan berstrata secara proporsional. Misalnya suatu organisasi yang mempunyai pegawai dari berbagai latar belakang pendidikan, maka populasi pegawai itu berstrata. Populasi berjumlah 100 orang diketahui bahwa 25 orang berpendidikan SMA, 15 orang diploma, 30 orang S1, 15 orang S2 dan 15 orang S3. Jumlah sampel yang harus diambil meliputi strata pendidikan tersebut dan diambil secara proporsional.
  • Disproportionate stratified random sampling
    Sugiyono (2001: 59) menyatakan bahwa teknik ini digunakan untuk menentukan jumlah sampel bila populasinya berstrata tetapi kurang proporsional. Misalnya pegawai dari PT tertentu mempunyai mempunyai 3 orang lulusan S3, 4 orang lulusan S2, 90 orang lulusan S1, 800 orang lulusan SMU, 700 orang lulusan SMP, maka 3 orang lulusan S3 dan empat orang S2 itu diambil semuanya sebagai sampel. Karena dua kelompok itu terlalu kecil bila dibandingkan denan kelompok S1, SMU dan SMP.
  • Area (cluster) sampling (sampling menurut daerah)
    Teknik ini disebut juga cluster random sampling. Menurut Margono (2004: 127), teknik ini digunakan bilamana populasi tidak terdiri dari individu-individu, melainkan terdiri dari kelompok-kelompok individu atau cluster. Teknik sampling daerah digunakan untuk menentukan sampel bila objek yang akan diteliti atau sumber data sangat luas, misalnya penduduk dari suatu negara, propinsi atau kabupaten.

2. Nonprobability sampling

Non Probability sampling adalah sebuah teknik sampling yang tidak memperhatikan banyak variabel dalam penarikan sampel. Sampel-sampel dari Nonprobability Sampling juga disebut sebagai subjek penelitian dimana hasil dari uji yang dilakukan pada sampling tidak memiliki hubungan dengan populasi. Tujuan penggunaan teknik sampling ini lebih banyak melekat pada materi yang diujikan sedangkan pada random samplin atau probability Sampling, tujuan penelitian melekat pada nilai dari materi pada populasi yang diujikan.

a. Sampling sistematis

Sugiyono (2001:60) menyatakan bahwa sampling sistematis adalah teknik penentuan sampel berdasarkan urutan dari anggota populasi yang telah diberi nomor urut. Misalnya anggota populasi yang terdiri dari 100 orang. Dari semua anggota diberi nomor urut, yaitu nomor 1 sampai dengan nomor 100. Pengambilan sampel dapat dilakukan dengan nomor ganjil &nbsp;saja, genap saja, atau kelipatan dari bilangan tertentu, misalnya kelipatan dari bilangan lima. Untuk itu, yang diambil sebagai sampel adalah 5, 10, 15, 20 dan seterusnya sampai 100.

b. Quota sampling

Menurut Sugiyono (2001: 60) menyatakan bahwa quota sampling adalah teknik untuk menentukan sampel dari populasi yang mempunyai ciri-ciri tertentu sampai jumlah (kuota) yang diinginkan. Menurut Margono (2004: 127) dalam &nbsp;teknik &nbsp;ini &nbsp;jumlah populasi tidak diperhitungkan akan tetapi diklasifikasikan dalam beberapa kelompok. Sampel diambil dengan memberikan jatah atau quorum tertentu terhadap kelompok. Pengumpulan data dilakukan langsung pada unit sampling. Setelah kuota terpenuhi, pengumpulan data dihentikan. Sebagai contoh, akan melakukan penelitian terhadap pegawai golongan II dan penelitian dilakukan secara kelompok. Setelah jumlah sampel ditentukan 100 dan jumlah anggota peneliti berjumlah 5 orang, maka setiap anggota peneliti dapat memilih sampel secara bebas sesuai dengan karakteristik yang ditentukan (golongan II) sebanyak 20 orang.

c. Sampling aksidental

Sampling aksidental adalah teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data (Sugiyono, 2001: 60). Menurut Margono (2004: 27) menyatakan bahwa dalam teknik ini pengambilan sampel tidak ditetapkan lebih dahulu. Peneliti langsung mengumpulkan data dari unit sampling yang ditemui. Misalnya penelitian tentang pendapat umum mengenai pemilu dengan mempergunakan setiap warga negara yang telah dewasa sebagai unit sampling. Peneliti mengumpulkan data langsung dari setiap orang dewasa yang dijumpainya, sampai jumlah yang diharapkan terpenuhi.

d. Purposive sampling

Sugiyono (2001: 61) menyatakan bahwa purposive sampling adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Menurut Margono (2004:128), pemilihan sekelompok subjek dalam purposive sampling didasarkan atas ciri-ciri tertentu yang dipandang mempunyai sangkut paut yang erat dengan ciri-ciri populasi yang sudah diketahui sebelumnya, dengan kata lain unit sampel yang dihubungi disesuaikan dengan kriteria-kriteria tertentu yang diterapkan berdasarkan tujuan penelitian. Misalnya, akan melakukan penelitian tentang disiplin pegawai maka sampel yang dipilih adalah orang yang memenuhi kriteria-kriteria kedisiplinan pegawai.

e. Sampling Jenuh

Menurut Sugiyono (2001:61) sampling jenuh adalah teknik penentuan sampel jika semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Hal ini biasa dilakukan bila jumlah populasi relatif kecil, kurang dari 30 orang. Istilah lain sampel jenuh adalah sensus, dimana semua anggota populasi dijadikan sampel.

f. Snowball sampling

(Sugiyono, 2001: 61), Snowball sampling adalah teknik penentuan sampel yang awalnya jumlahnya kecil, kemudian sampel ini disuruh memilih teman-temannya untuk dijadikan sampel begitu seterusnya, sehingga jumlah sampel semakin banyak. Ibarat bola salju yang menggelinding semakin lama semakin besar. Pada penelitian kualitatif banyak menggunakan purposive dan snowball sampling. Teknik sampel ditunjukkan pada gambar dibawah ini.

penjelasan teknik sampling

 

Sumber:

  • Fraenkel, J. &amp; Wallen, N. (1993). How to Design and evaluate research in education. (2nd ed). New York: McGraw-Hill Inc.
  • Gay, L.R. dan Diehl, P.L. (1992), Research Methods for Business and. Management, MacMillan Publishing Company, New York
  • Karlingger, Fred N. 1987. Asas-Asas Penelitian Behavioral. Yogyakarta : UGM
  • Hair, J.F., W.C. Black, B.J. Babin, R.E. anderson, R.L.Tatham, (2006). Multivariate Data Analysis, 6  Ed., New Jersey : Prentice Hall
  • Krejcie, R. V., &amp; Morgan, D. W. (1970). Determining sample size for research activities. Educational and Psychological Measurement, 30, 607-610.
  • Sugiyono, (2008). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung : Penerbit Alfabeta
  • http://www.eurekapendidikan.com/2015/09/defenisi-sampling-dan-teknik-sampling.html

 

Demikian artikel kali ini tentang Penjelasan Teknik Sampling : Definisi, Tujuan Pengambilan, Syarat Pengambilan, Ukuran, Teknik Pengambilan, Jenis dan Metode Sampling. Yang didalam sudah mencakup pengertian accidental dan cluster sampling, penjelasan snowball sampling, dll. Semoga ilmunya bisa bermanfaat.

Hen Hen Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Bila kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yang salah, dan TERUSLAH MELANGKAH.