Pengertian Asam Basa Teori Sifat dan Contohnya

43 views

asam basa

Pengertian, Teori, Sifat dan Contoh Asam Basa – Senyawa asam dalam kehidupan sehari-hari antara lain asam cuka, asam sitrat, dan asam sulfat. Asam cuka biasanya digunakan untuk memasak makanan misalnya acar, asam sitrat dalam buah jeruk, dan asam sulfat digunakan dalam aki kendaraan bermotor. Selain asam ada senyawa basa seperti aluminium hidroksida dan magnesium hidroksida yang terdapat pada obt mag serta kalsium hidroksida atau air kapur.

Asam atau basa suatu zat kimia disebabkan oleh beberapa hal. Ratusan tahun yang lalu, para pakar kimia telah berhasil menemukan mengapa suatu zat dapat dikatakan asam, basa, atau netral.

Pengertian Asam dan Basa

Secara umum suatu zat dikatakan asam yaitu jika memiliki pH kurang dari 7, sedangkan basa jika memiliki pH lebih dari 7. Untuk mengetahui suatu zat tersebut bersifat asam atau basa bisa dengan menggunakan indikator sederhana, indikator tersebut ialah dengan menggunakan kertas lakmus.

Jika kertas lakmus merah berubah menjadi biru artinya larutan tersebut bersifat basa, sedangkan jika lakmus biru berubah menjadi merah artinya larutan tersebut bersifat asam. Untuk mengukur kekuatan asam basa bisa digunakan pH meter atau pH paper universal. Pada pH meter, ketelitian yang didapat hingga dua angka desimal, sedangkan pada pH paper universal ketelitiannya hanya satu digit saja. Maka dari itu penggunaan dari pengukur pH tersebut disesuaikan dengan kebutuhan. Jika kebutuhannya untuk mendapatkan nilai pH yang lebih akurat sebaiknya menggunakan pH meter.

Asam dapat didefinisikan juga sebagai zat yang jika dilarutkan dalam air akan mengalami disosiasi dan menghasilkan kation hidrogen (H+), sedangkan basa didefinisikan sebagai zat yang jika dilarutkan dalam air akan mengalami disosiasi dan menghasilkan anion hidroksida (OH).

Contoh reaksi disosiasi asam basa adalah sebagai berikut

Asam :asam basaBasa :

asam basa

Teori-teori Asam Basa

Perkembangan teori-teori asam basa diawali dari Arrhenius (1884), Bronsted – Lowry (1923), Lewis (1923).

a. Teori Asam Basa Arrhenius

Teori ini pertama kalinya dikemukakan pada tahun 1884 oleh Svante August Arrhenius. Menurut Arrhenius, definisi dari asam dan basa, yaitu:

  • Asam adalah senyawa yang jika dilarutkan dalam air melepaskan ion H+.
  • Basa adalah senyawa yang jika dilarutkan dalam air melepaskan ion OH.

Gas asam klorida (HCl) yang sangat larut dalam air tergolong asam Arrhenius, sebagaimana HCl dapat terurai menjadi ion H+dan Cl di dalam air. Berbeda halnya dengan metana (CH4) yang bukan asam Arrhenius karena tidak dapat menghasilkan ion H+ dalam air meskipun memiliki atom H. Natrium hidroksida (NaOH) termasuk basa Arrhenius, sebagaimana NaOH merupakan senyawa ionik yang terdisosiasi menjadi ion Na+ dan OH ketika dilarutkan dalam air. Konsep asam dan basa Arrhenius ini terbatas pada kondisi air sebagai pelarut.

b. Teori Asam Basa Brønsted–Lowry

Pada tahun 1923, Johannes N. Brønsted dan Thomas M. Lowry secara terpisah mengajukan definisi asam dan basa yang lebih luas. Konsep yang diajukan tersebut didasarkan pada fakta bahwa reaksi asam–basa melibatkan transfer proton (ion H+) dari satu zat ke zat lainnya. Proses transfer proton ini selalu melibatkan asam sebagai pemberi/donor proton dan basa sebagai penerima/akseptor proton. Jadi, menurut definisi asam basa Brønsted–Lowry,

  • Asam adalah donor proton.
  • Basa adalah akseptor proton.

Jika ditinjau dengan teori Brønsted–Lowry, pada reaksi ionisasi HCl ketika dilarutkan dalam air, HCl berperan sebagai asam dan H2O sebagai basa.

HCl(aq) + H2O(l) → Cl(aq) + H3O+(aq)

HCl berubah menjadi ion Cl setelah memberikan proton (H+) kepada H2O. H2O menerima proton dengan menggunakan sepasang elektron bebas pada atom O untuk berikatan dengan H3(aq) + H2O(l) ⇌ NH4+(aq) + OH(aq)

NH3 menerima proton (H+) dari H2O dengan menggunakan sepasang elektron bebas pada atom N untuk berikatan dengan H+ sehingga terbentuk ion ammonium (NH4+). H2O berubah menjadi ion OH setelah memberikan proton (H+) kepada NH3.

asam basa

Pelarutan asam atau basa dalam air sebagai reaksi asam–basa Brønsted–Lowry (Sumber: Silberberg, Martin S. & Amateis, Patricia. 2015. Chemistry: The Molecular Nature of Matter and Change (7th edition). New York: McGraw-Hill Education)

Dari kedua contoh tersebut terlihat bahwa (1) asam Brønsted–Lowry harus mempunyai atom hidrogen yang dapat terlepas sebagai ion H+; dan (2) basa Brønsted–Lowry harus mempunyai pasangan elektron bebas yang dapat berikatan dengan ion H+.

c. Teori Asam Basa Lewis

Pada tahun 1923, G. N. Lewis mengemukakan teori asam basa yang lebih luas dibanding kedua teori sebelumnya dengan menekankan pada pasangan elektron yang berkaitan dengan struktur dan ikatan. Menurut definisi asam basa Lewis,

  • Asam adalah akseptor pasangan elektron.
  • Basa adalah donor pasangan elektron.

Berdasarkan definisi Lewis, asam yang berperan sebagai spesi penerima pasangan elektron tidak hanya H+. Senyawa yang memiliki orbital kosong pada kulit valensi seperti BF3 juga dapat berperan sebagai asam. Sebagai contoh, reaksi antara BF3 dan NH3 merupakan reaksi asam–basa, di mana BF3 sebagai asam Lewis dan NH3 sebagai basa Lewis. NH3 memberikan pasangan elektron kepada BF3 sehingga membentuk ikatan kovalen koordinasi antara keduanya.

Kelebihan definisi asam basa Lewis adalah dapat menjelaskan reaksi-reaksi asam–basa lain dalam fase padat, gas, dan medium pelarut selain air yang tidak melibatkan transfer proton. Misalnya, reaksi-reaksi antara oksida asam (misalnya CO2 dan SO2) dengan oksida basa (misalnya MgO dan CaO), reaksi-reaksi pembentukan ion kompleks seperti [Fe(CN)6]3−, [Al(H2O)6]3+, dan [Cu(NH3)4]2+, dan sebagian reaksi dalam kimia organik.

Sifat-sifat Asam Basa

Secara umum, asam atau basa dapat diketahui melalui berbagai sifat-sifatnya. Berikut ini akan disajikan beberapa sifat-sifat asam dan basa :

Sifat AsamSifat Basa
Mempunyai rasa asamMempunyai rasa pahit
Dapat merubah warna indikator misalnya kertas lakmus biru menjadi merahDapat merubah warna indikator kertas lakmus merah menjadi biru
Bersifat korosif terhadap logamBersifat kaustik artinya dapat merusak kulit
Dapat menghantarkan listrik (konduktor)Dapat menghantarkan arus listrik (konduktor)
Jika dilarutkan ke dalam air menghasilkan ion H+Jika dilarutkan ke dalam air menghasilkan ion OH
Memiliki nilai pH (derajat keasaman) kurang dari 7Memiliki pH lebih dari 7
Semakin kecil nilai pH suatu zat maka semakin kuat sifat keasamannyaSemakin besar nilah pH suatu zat maka semakin kuat derajat kebasaanya
Terasa licin jika terkena air, misalnya sabun

Contoh Asam Basa dalam kehidupan sehari-hari

Asam :

  • Vitamin C
  • Asam Cuka
  • Asam karbonat (terdapat pada minuman ringan)

Basa :

  • Deterjen
  • Sabun
  • Amonia rumah tangga

Kesimpulan

Itulah penjelasan tentang Teori Asam Basa, pengertian, sifat dan contoh asam basa. Dari ketiga definisi asam-basa di atas, definisi Arrhenius yang paling terbatas. Teori Lewis meliputi asam-basa yang paling luas. Sepanjang yang dibahas adalah reaksi di larutkan dalam air, teori Bronsted-Lowry paling mudah digunakan, tetapi teori Lewis lah yang paling tepat bila reaksi asam-basa melibatkan senyawa tanpa proton. Semoga bermanfaat.

Tags: #chemistry

Leave a reply "Pengertian Asam Basa Teori Sifat dan Contohnya"

Author: 
author
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Bila kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yang salah, dan TERUSLAH MELANGKAH.