Ilmu Pragmatik dalam Bahasa Indonesia

ilmu pragmatik

Ilmu Pragmatik dalam Bahasa Indonesia – Pragmatik merupakan salah satu ilmu di bidang linguistik yang mempunyai peranan yang cukup penting dalam komunikasi (Sumarlam, 2017:1). Maka, dengan memahami dan menguasai ilmu pragmatik, seseorang dapat memahami pula struktur fungsional yang berkaitan struktur formal atau gramatika sebuah bahasa yang berfungsi di dalam komunikasi. Cakupan dalam kajian pragmatik sendiri juga luas. Topik apa pun yang berkaitan dengan penggunaan bahasa dapat dikaji melalui pragmatik.

Di dalam ilmu linguistik pragmatik merupakan salah satu kajian baru bila dibandingkan dengan kajian linguistik lainnya seperti fonologi, morfologi, sintaksis, wacana, dan semantik. Kajian pragmatik juga merupakan salah satu bagian dari semiotik yang mempelajari asal-usul faktor penggunaan bahasa itu sendiri, serta

pengaruh pemakaian bahasa dalam berkomunikasi.
Di dalam bukunya Leeech memeberikan batasan pragmatik sebagai studi tentang makna dalam hubungannya dengan situasi-situasi ujar (speech situation). Ada pun situasi-situasi ujar pragmatik meliputi lima macam situasi sebagai berikut:

a. Penutur dan mitra tutur

Penutur (P) dan mitra tutur (MT) adalah situasi ujar yang sangat penting untuk dipertimbangkan dalam mengkaji makna atau maksud ujaran dalam kajian pragmatik (Sumarlam, 2017:3). Penutur dan mitra tutur yang disimbolkan dengan P dan MT ini bersifat netral. Artinya, P dapat mencakup penutur, pembicara, penulis atau penyapa. Sedangkan MT

dapat mencakup mitra tutur, penutur, pendengar, pembaca, maupun pesapa. Untuk P yang meliputi pembicara atau penulis dan MT yang meliputi pendengar atau pembaca menunjukkan bahwa bidang kajian pragmatik menangani bahasa sebagai media lisan maupun bahasa sebagai media tulisan.

Baca juga  5 Unsur Plot atau Alur Cerita

b. Konteks tuturan

Di dalam pragmatik konteks tuturan tidak hanya berupa hal yang berhubungan dengan lingkungan fisik dan sosial sebuah tuturan, melainkan juga berupa latar belakang yang sama-sama dimiliki oleh P maupun MT dan juga aspek-aspek yang dapat membantu MT dalam menafsirkan makna tuturan.

c. Fungsi tuturan

Fungsi juga dapat dimaknai dengan tujuan atau maksud dari sebuah tuturan. Sebagai peneliti yang mengkaji pragmatik maka, harus memperhatikan secara tepat dan cermat fungsi sebuah tuturan yang dilakukan oleh P dan pengaruh tuturan tersebut terhadap MT. Hal tersebut perlu diperhatikan sebab, bentuk atau struktur formal sebuah tuturan tidak selalu berfungsi

sebagai pertanyaan, tetapi secara fungsional P bermaksud menyuruh MT melakukan suatu tindakan.

d. Tindak tutur

Secara intensif pragmatik menangani tindak-tindak tutur atau speech acts yaitu, performansi-performansi verbal yang terjadi dalam situasi dan waktu tertentu sebab tindak tutur inilah yang merupakan satuan analisis atau satuan kajian pragmatik.

e. Tuturan

Tuturan sebagai tindak verbal juga perlu diperhatikan dalam kajian pragmatik. Dalm hal ini perlu dibedakan antara “kalimat” dengan “tuturan”. Kalimat lebih digunakan untuk mengacu pada gramatikal sistem bahasa. Sedangkan, tuturan mengacu pada contoh-contoh gramatikal tersebut yang digunakan dalam situasi tertentu.

Demikianlah artikel kali ini tentang Ilmu Pragmatik dalam Bahasa Indonesia, semoga bermanfaat.